Hari Pendidikan Nasional 2020

Pandemi Covid-19 telah mengasah sifat manusiawi untuk survive, termasuk dalam konteks pendidikan. Prosedur dasar untuk bertahan dari penyakit ini adalah “tetap di rumah saja” agar terhindar dari paparan dari atau pun memapari virus kepada orang lain. Tentu, kondisi ini merusak aktivitas pembelajaran. Namun manusia, sebagai mahluk yang dikaruniai akal tetap berpikir dan berusaha untuk survive: “the show must go on”.

Kita semua harus tetap di rumah, maka kita jadikan rumah sebagai tempat multifungsi: bertahan dan berlindung dari ancaman bahaya di luar, berkumpul seluruh anggota keluarga, dan tak ketinggalan pula sebagai tempat mendidik dan bekerja. Learn and lecture from home, work from home.

Dalam konteks memperingati Hari Pendidikan Nasional kali ini, mari kita mendidik berpusat dari rumah. Kita jadikan setiap rumah menjadi institusi pendidikan (sebut: sekolah), dan setiap orang tua (parent) adalah guru. Kita belajar bersama seluruh anggota keluarga. Belajar untuk: bersabar dan menahan diri, lebih saling memahami satu sama lain, peduli dan mendampingi anak-anak yang sedang menyelesaikan tugas-tugas sekolah, menguasai teknologi baru, dan berperilaku hidup sehat.

Belajar sabar dan menahan diri. Berada di dalam rumah terus-menerus untuk waktu yang lama seperti terkungkung di dalam penjara. Semua ingin bebas, semua ingin suasana baru. Tetapi di sisi lain, di luar ada ancaman bahaya yang mematikan. Kondisi ini membutuhkan kecepatan untuk belajar menyikapi keadaan. Merubah atau mengikis kebosanan dengan sesuatu yang mengasyikkan.
Belajar untuk lebih saling memahami. Selama ini, anggota keluarga sibuk dengan rutinitas masing-masing. Ketika harus tetap di rumah dan berkumpul dengan keluarga, maka diperlukan kecepatan untuk belajar lebih saling memahami. Tanpa hal ini, ditambah dalam kebosanan dan kejenuhan, maka suasana tidak nyaman mudah sekali terjadi. Para orang tua, harus mampu dengan cepat menyelami karakter dan suasana psikologis masing-masing anggota keluarga sehingga dapat diantisipasi dan dikendalikan, bahkan dikembangkan menjadi suasanya yang akrab dan nyaman.
Belajar peduli dan mendampingi. Keluarga muda yang memiliki anak-anak sekolah, maka harus dengan cepat belajar memahami bagaimana anak-anak belajar dan menyelesaikan tugas sekolah. Ketika tidak semua guru di sekolah mampu mendesain dengan baik kegiatan pembelajaran dari rumah, maka orang tua harus cepat belajar untuk mengatasi keadaan. Ikut memahami apa yang dibahas dan dipelajari anak, menuntun mereka menyelesaikan soal, dan membantu mencari jawaban sesuai dengan bahan tugas masing-masing.
Belajar menguasai teknologi baru. Ini merupakan perubahan yang terlalu cepat dan tanpa terencana. Semua pihak harus berada di rumah, namun aktivitas jarak jauh harus tetap berjalan. Pelayanan pendidikan harus tetap berjalan. Metode daring (online) menjadi pilihan tercepat. Para pendidik, peserta didik, orang tua, dan semua unsur terkait dihadapkan pada kegagapan teknologi. Meskipun hampir setiap individu memiliki perangkat canggih yang siap untuk digunakan, namun tidak semuanya paham dan bisa memanfaatkannya. Semua harus cepat belajar: mengetahui sifat dan cara kerja dari setiap jenis produk teknologi daring.
Belajar berperilaku hidup sehat. Kita semua tahu bahwa Covid-19 memiliki patogenitas dan fatalitas yang tinggi. Kita harus cepat belajar untuk mengajarkan cara hidup sehat dalam menghadapi Covid-19, mekanisme penularan dan cara menghindarinya. Di sisi lain, berkumpul di rumah dengan semua anggota keluarga juga menjadi risiko penularan penyakit, khususnya Demam Berdarah Dengue (DBD) bagi penduduk yang tinggal di daerah endemis penyakit ini. Saat berkumpul bersama, dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan cara memberantas DBD di lingkungan rumah, agar semua anggota keluarga terhindar dari penyakit ini.

Momentum Hari Pendidikan nasional dapat menjadi titik tolak akselerasi pengendalian Covid-19 dan DBD, serta belajar untuk hidup lebih baik meskipun dalam suasana pandemi penyakit. Mari kita mendidik diri dan keluarga untuk belajar lebih banyak dari perubahan kehidupan yang cepat dan tidak selalu menguntungkan.

Gunakan Fogging Secara Tepat

Tindakan ini sering menjadi tuntutan utama masyarakat jika ada kasus DBD di wilayahnya. Fogging boleh dilakukan asal secara selektif dan tepat. Selektif artinya perlu informasi dasar tentang kepekaan nyamuk Aedes di wilayah yang menjadi sasaran. Nyamuk Aedes telah resisten dengan berbagai jenis insektisida, sehingga biaya dan tenaga menjadi sia-sia jika fogging dilakukan tetapi nyamuk tidak mati. Fogging harus dilakukan dengan TEPAT. Tepat dosis, tepat waktu, dan tepat sasaran. Dosis harus sesuai anjuran; tidak boleh dikurangi atau ditambah, karena keduanya akan mempercepat resistensi. Tiap titik kasus harus di-fogging 2 kali, dengan selang waktu 7 – 10 hari; dengan tujuan nyamuk baru yang lahir setelah fogging pertama akan mati pada fogging kedua. Waktu pelaksanaan fogging adalah pagi hari sebelum udara panas dan angin bertiup. Udara panas akan mempercepat penguapan insektisida, dan angin akan memindahkan kabut insektisida ke tempat lain yang bukan sasaran. Fogging sebaiknya dikerjakan melingkar mengitari titik kasus. Hal ini didasarkan pada insting nyamuk untuk lari jika mendengar deru mesin dan bau insektisida. Dengan cara mengitari kasus, maka nyamuk akan terkurung oleh kabut insektisida, dan diharapkan fogging lebih efektif. Namun perlu diingat: fogging bukan andalan untuk mencegah DBD, melainkan hanya tindakan darurat sementara. Apalagi fogging swadaya, mohon jangan dilakukan.

KALENG PERANGKAP NYAMUK

Prinsip kerja alat ini adalah sebagai perangkap telur nyamuk Aedes, sekaligus dapat mematikan nyamuk muda yang menetas. Alat ini dapat dibuat dari bekas kaleng susu yang dibersihkan dan dibuka bagian atasnya. Kaleng diisi air ¾ bagian. Tepat pada permukaan air, ditutup kasa nyamuk yang diapungkan dengan spons hati. Kasa nyamuk dijepit (dilem) dengan dua irisan spons hari yang dibentuk seperti roda atau donat (diameter sedikit lebih kecil dari diameter kaleng), lalu ditaruh (mengapung) di permukaan air dalam kaleng. Pasang di sudut rumah yang teduh, lembab, dan jarang dijamah penghuni rumah. Beberapa hari kemudian nyamuk akan bertelur di bagian dalam kaleng, dan seminggu kemudian menetas menjadi jentik. Pada hari ke 10 – 14 akan menetas nyamuk muda, dan terjebak di bawah kasa nyamuk dan mati tenggelam. Tiap rumah dapat dipasang 6 buah kaleng sehingga dalam satu RT (40 rumah) dapat dipasang 240 buah, hanya dengan biaya pembuatan kurang dari 300 ribu rupiah.

Alat ini dapat membunuh nyamuk muda yang muncul dari pupa, sehingga sering diberi nama autocidal ovitrap. Kelebihan dari alat ini adalah terbuat dari kaleng bekas yang memang disukai nyamuk, cara membuatnya mudah dan murah, cara pemasangan dan pemeliharaannya mudah, dan tidak mencemari lingkungan. kelemahannya adalah nyamuk dewasa tidak ikut terperangkap dan mati sehingga masih memungkinkan untuk meneruskan penularan virus meskipun hanya tinggal beberapa hari saja.

CEGAH DBD dengan Metode & Teknologi Sederhana

Musim hujan telah tiba. Masyarakat perlu waspada terhadap ancaman kesehatan, terutama merebaknya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Untuk itu, diperlukan gerakan strategis seluruh masyarakat untuk bersama-sama melaksanakan tindakan pencegahan. Beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan sebelum DBD menjadi musibah.

Peniadaan sarang nyamuk (PSN)

PSN adalah segala tindakan yang bertujuan untuk menghilangkan atau menghapus sarang-sarang nyamuk Aedes, baik Aedes aegypti maupun Aedes albopictus. Nyamuk Aedes aegypti bersifat domestik, sehingga bersarang pada tempat-tempat penampung air bersih di dalam rumah. Drum, ember, tempayan, kulah masjid tradisional, bak kamar mandi, WC pada rumah kosong, tempat minum burung, perangkap semut, vas bunga, alas pot bunga, tandon air bawah tanah, septic tank yang berlubang, kaleng atau botol bekas yang dibuang ke pekarangan, merupakan tempat perindukan subur bagi nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes albopictus bersarang pada lingkungan alami di luar rumah seperti tempat-tempat penampung air di sekitar rerimbunan pohon di kebun-kebun atau semak-semak. Pelepah daun yang lebar, lubang pohon, potongan bambu atau batang pisang, tempurung kelapa, lubang batu, dan semacamnya merupakan tempat perindukan Aedes albopictus. Oleh karena itu, sasaran PSN tidak hanya terbatas di dalam rumah, melainkan juga di luar rumah, termasuk pekarangan atau kapling dan rumah kosong di lingkungan pemukiman. Dalam hal ini, para Ketua RT, RW, Lurah dan tokoh masyarakat lain perlu memiliki pemahaman yang benar tentang DBD dan cara pencegahannya, sehingga dapat berperan aktif dalam menggerakkan warga masyarakat.

Repellent

Repellent atau krim pengusir nyamuk bisa diaplikasikan pada anak-anak sebelum berangkat ke sekolah. Lengan, kaki, leher, telinga, dan sebagian dahi dapat diolesi secara tepat. Anak-anak jangan dibiarkan menggunakan sendiri karena berisiko keracunan bila mereka lupa cuci tangan dan memegang jajanan. Untuk mencegah DBD, repellent digunakan pada pagi dan sore hari; bukan malam hari.

 

Sweep Net

Alat ini berupa lingkaran berdiameter 30 – 40 sentimeter yang diselubungi  kerucut kain kasa lembut dengan diameter lubang kasa kurang dari 1 milimeter. Lingkaran terbuat dari kawat, rotan, bambu, plat besi ringan atau aluminium. Tangkai dipasang secara kokoh pada lingkaran tersebut untuk memudahkan penggunaan. Tangkap terbuat dari kayu, bambu, pipa besi ringan atau aluminium, sepanjang 25 – 30 sentimeter, dan dipasang sekokoh mungkin.

Nama sweep net disesuaikan dengan bahan yang digunakan dan cara penggunaannya. Bahan terpenting pada alat ini adalah kain kasa lembut yang berfungsi sebagai jaring (net). Alat ini digunakan dengan cara mengayunkan atau menyapukan (sweeping) jaring secara cepat dan acak ke berbagai sudut ruangan, tempat-tempat persembunyian nyamuk, atau kerumunan nyamuk. Setiap kali berhenti mengayunkan, jaring kerucut digenggam bagian tengahnya agar nyamuk yang telah terperangkap di ujung kerucut tidak lepas kembali.

Pembuatan sweep net

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sweep net adalah kain kasa, benang jahit, kawat, pipa besi atau bambu, dan kawat kecil/kawat tembaga atau tali plastik. Kain kasa dipilih yang lembut dan berdiameter lubang kurang dari 1 mm. Satu meter persegi kain kasa dapat dibuat menjadi dua buah sweep net. Benang jahit cukup satu rol untuk menjahit sepanjang 4 – 5 meter jahitan. Kawat berdiameter 3 – 5 cm sepanjang 90 – 120 cm, sebagai bahan lingkaran. Pipa besi, aluminium atau bambu berdiameter 1,5 – 2 cm sepanjang 25 – 30 cm sebagai bahan tangkai. Kawat kecil (bendrat atau tembaga) atau tali plastik berdiameter 0,8 – 1 mm sebagai tali pengikat lingkaran dan tangkai. Alat-alat yang dibutuhkan adalah gunting kain, mesin jahit, gergaji besi dan tang.

Proses pembuatan sweep net dimulai dengan memotong kain kasa secara diagonal, menjadi dua segitiga sama kaki. Sisi-sisi (kaki) yang sama panjang dan saling tegak lurus disatukan dan dijahit. Sisi miring (alas segitiga sama kaki) dilipat 1,5 cm dan dijahit sepanjang lipatan. Kain kasa sudah berbentuk kerucut. Kawat berdiameter 3 – 5 cm dimasukkan ke dalam lipatan kain kasa di mulut kerucut. Ujung-ujung kawat dipertemukan sehingga membentuk lingkaran. Ujung-ujung kawat dilebihkan sepanjang 5 – 10 cm dan dibengkokkan ke arah yang sama (keluar lingkaran) dan diikat kuat-kuat sebagai tempat tautan dengan tangkai. Pipa bahan tangkai dipertemukan (disatukan) dengan ujung kawat dan diikat kuat-kuat dengan kawat bendrat/tembaga/tali plastik. Sweep net sudah jadi, dirapikan dan siap untuk digunakan.

 

BOTOL PERANGKAP NYAMUK

Alat perangkap ini merupakan karya seorang anak sekolah dasar di China, yang memanfaatkan botol bekas air minum kemasan. Botol dipotong menjadi dua bagian, tepat pada bagian tengah. Bagian atas diposisikan seperti corong menghadap ke atas. Botol diisi dengan bahan yang menghasilkan zat perangsang penciuman nyamuk, yaitu gas CO2 dan Amonia. Bahan yang digunakan adalah air gula dan ragi sehingga terjadi fermentasi dan menghasilkan kedua gas tersebut. Selain menghasilkan gas, proses fermentasi juga menghasilkan busa yang lengket di permukaan botol bagian dalam. Nyamuk tertarik oleh aroma kedua gas tersebut, dan tergiring masuk ke dalam botol. Namun setelah masuk, nyamuk tidak bisa keluar dan terjebak bersama busa di dinding botol bagian dalam, dan akhirnya mati.